ruangpublik.info Demokrasi SEJARAH, PEMENUHAN KEBUTUHAN ATAU HANYA SEKEDAR IDENTITAS

SEJARAH, PEMENUHAN KEBUTUHAN ATAU HANYA SEKEDAR IDENTITAS

SEJARAH, PEMENUHAN KEBUTUHAN ATAU HANYA SEKEDAR IDENTITAS

Suatu bangsa sebagai kolektivitas seperti halnya individu memiliki kepribadian yang terdiri atas serumpun ciri-ciri menjadi suatu watak. Kepribadian nasional lazimnya bersumber pada pengalaman bersama bangsa itu atau sejarahnya. Identitas seseorang pribadi dikembalikan kepada riwayatnya, maka identitas suatu bangsa berakar pada sejarah bangsa itu.

Sejarah merupakan cerita tentang pengalaman kolektif suatu komunitas atau nation di masa lampau. Pada pribadi, pengalaman membentuk kepribadian seseorang dan sekaligus menentukan identitasnya. Proses serupa terjadi pada kolektivitas, yakni pengalaman kolektifnya atau sejarahnyalah yang membentuk kepribadian nasional dan sekaligus identitas nasionalnya. Bangsa yang tidak mengenal sejarahnya dapat diibaratkan seorang individu yang telah kehilangan memorinya, ialah orang yang pikun atau sakit jiwa, maka dia kehilangan kepribadian atau identitasnya.

Berdasarkan pernyataan di atas, dapat diambil beberapa butir kesimpulan antara lain:

    1. untuk mengenal identitas bangsa diperlukan pengetahuan sejarah pada umumnya, dan sejarah nasional khususnya. Sejarah nasional mencakup secara komprehensif segala aspek kehidupan bangsa, yang terwujud sebagai tindakan, perilaku, prestasi hasil usaha atau kerjanya mempertahankan kebebasan atau kedaulatannya, meningkatkan taraf hidupnya, menyelenggarakan kegiatan ekonomi, sosial, politik, religius, lagi pula menghayati kebudayaan politik beserta ideologi nasionalnya, kelangsungan masyarakat dan kulturnya
    2. sejarah nasional mencakup segala lapisan sosial beserta bidang kepentingannya, subkulturnya. Sejarah nasional mengungkapkan perkembangan multi etnisnya, sistem hukum adatnya, bahasa, sistem kekerabatan, kepercayaan, dan sebagainya.

Apabila suatu kepribadian turut membentuk identitas seorang individu atau suatu komunitas, kiranya tidak sulit dipahami bahwa kepribadian berakar pada sejarah pertumbuhannya. Di sini, kesadaran sejarah amat esensial bagi pembentukan kepribadian. Analog dengan sosio genesis individu, kepribadian bangsa juga secara inhern memuat kesadaran sejarah itu. Implikasi hal tersebut di atas bagi national building ialah tak lain bahwa sejarah dan pendidikan memiliki hubungan yang erat dalam proses pembentukan kesadaran sejarah. Dalam rangka national building pembentukan solidaritas, inspirasi dan aspirasi mengambil peranan yang penting, di satu pihak untuk system maintenance negara nation, dan dipihak lain memperkuat orientasi atau tujuan negara tersebut. Tanpa kesadaran sejarah, kedua fungsi tersebut sulit kiranya untuk dipacu, dengan perkataan lain semangat nasionalisme tidak dapat ditumbuhkan tanpa kesadaran sejarah.

Kesadaran sejarah pada manusia sangat penting artinya bagi pembinaan budaya bangsa. Kesadaran sejarah dalam konteks ini bukan hanya sekedar memperluas pengetahuan, melainkan harus diarahkan pula kepada kesadaran penghayatan nilai-nilai budaya yang relevan dengan usaha pengembangan kebudayaan itu sendiri. Kesadaran sejarah dalam konteks pembinaan budaya bangsa dalam pembangkitan kesadaran bahwa bangsa itu merupakan suatu kesatuan sosial yang terwujud melalui suatu proses sejarah, yang akhirnya mempersatukan sejumlah nation kecil dalam suatu nation besar yaitu bangsa. Dengan demikian indikator-indikator kesadaran sejarah tersebut dapat dirumuskan mencakup:

    • menghayati makna dan hakekat sejarah bagi masa kini dan masa yang akan datang
    • mengenal diri sendiri dan bangsanya
    • membudayakan sejarah bagi pembinaan budaya bangsa dan
    • menjaga peninggalan sejarah bangsa

BAGAIMANA DENGAN SEJARAH BEKASI ?

Menurut Endra Kusnawan Penulis buku SEJARAH BEKASI Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini adalah bermula dari jarangnya, atau bisa dikatakan tidak ada, buku sejarah tentang Bekasi yang bisa diperoleh secara bebas dimasyarakat umum. Yang ada hanya buku buku sejarah Bekasi yang dicetak terbatas dan untuk kalangan dan kepentingan tertentu. Padahal masyarakat Bekasi secara umum, atau akademisi, banyak yang ingin mengetahui sejarah Bekasi melalui buku yang mereka bisa miliki. Mereka ingin tahu Bekasi jaman dahulu itu seperti apa kisahnya. Sehingga wajar saja, jangankan para pendatang, orang asli Bekasi saja tidak mengetahui tentang sejarah daerah dimana dia, orang tuanya, atau engkong-engkongnya dilahirkan dan dibesarkan.

Apabila kita perhatikan berbagai tanggapan masyarakat mengenai bidang sejarah dan pengajarannya, terutama bagaimana pengajaran itu diberikan di sekolah-sekolah, dan yang disajikan di sini. Maka Kesimpulannya tidak bisa lain, sebagai warga Bekasi kita memang perlu sekali menangani pengajaran sejarah, dan khususnya sejarah bangsa, secara lebih memadai dan sungguh-sungguh yang terkait erat dengan kesadaran, penelitian, dan penjernihan sejarah. Dalam hal ini Pemerintah Daerah, harus perlu mulai mengadakan usaha cukup besar untuk menanggulangi masalah pengajaran sejarah yang kita rasakan kurang memuaskan itu.

Namun, untuk mengingatkan dan menggaris bawahi bahwa masalah sejarah sebenarnya lebih mendalam dan lebih rumit daripada yang sepintas tampak dalam pengajaran sejarah di Indonesia.

Hal itu memang disebabkan oleh sifat sejarah itu sendiri. Dalam hal itu sejarah tidak berbeda nasib dengan seluruh kelompok ilmu yang kini dikenal sebagai ilmu-ilmu sosial budaya.

Kesulitan sudah akan mulai, apabila kita diminta memberikan definisi yang tangguh mengenai sejarah. Sebagaimana diketahui, kita langsung memasuki masalah dalam filsafatnya dan akhirnya memilih berbicara tentang hasil yang tampak, yaitu penulisannya.

Yang diperlukan di Indonesia sekarang ini ialah penyuluhan ke dua arah, pertama-tama ke dalam guna para sejarawan sendiri, dan kedua ke luar untuk masyarakat luas. Di satu sisi, penyuluhan diperlukan guna memantapkan pengertian mengenai sejarah sebagai ilmu seperti yang kini berlaku. Sebagai ilmu, dengan sendirinya materi yang dihadapi perlu dikenakan penelitian tanpa hentinya, sedangkan sebagaimana dalam semua jenis ilmu, tergantung dari penemuan-penemuan sebagaimana pendapat mengenai berbagai segi materi ilmu bersangkutan berkembang.

Dengan perkataan lain, sejarah mesti dipahami sebagai ilmu yang berkembang dan dapat mengalami perubahan. Pengertian itu dengan sendirinya akan menggairahkan penelitian lebih lanjut dan keinginan mencapai kemajuan di dalam ilmu dan lewat ilmu. Akibatnya dalam jangka panjang, di samping kesadaran sejarah juga kesadaran ilmiah bertambah. Kedua hal itu perlu berjalan berdampingan guna meningkatkan mutu para sejarawan dan ilmu sejarah di Indonesia.

Kebudayaan-kebudayaan Indonesia, atau yang dalam penjelasan pasal 32 UUD 1945 disebut sebagai kebudayaan daerah, pada hakikatnya dapat dikelompokkan ke dalam budaya postfigurative. Orang-orang tua masih sangat membanggakan kebudayaan suku bangsa atau daerah asal mereka sebagai suatu sistem budaya yang terbaik dan tak mungkin berubah oleh perkembangan zaman. Kalaupun kini harus menghadapi kenyataan, orang-orang tua itu belum dapat melupakan impian masa jaya kebudayaan mereka di masa lampau. Tidaklah mengherankan kalau usaha pemerintah untuk menggali, mengungkapkan, dan menawarkan berbagai pilihan budaya daerah dalam rangka memperkembangkan kebudayaan nasional Indonesia, mendapat sambutan yang berlebihan dari generasi tua pendukung kebudayaan- kebudayaan Indonesia termaksud.

Ciri-ciri masyarakat yang berbudaya tipe postfigurative adalah:

    1. Keyakinan orangtua bahwa cara hidup mereka tidak berubah dan bersifat kekal. “Tak lapuk oleh hujan dan tak lekang oleh panas”
    2. Sangat kuat terkait pada lingkungan pendukungnya berasal, dibesarkan, dan dibiasakan secara aktif
    3. Kelangsungan budaya itu sangat tergantung pada kehadiran sekurang-kurangnya tiga generasi pendukungnya sehingga pengetahuan budaya dapat ditanamkan secara langsung melalui praktek kehidupan sehari-hari. Kakek dan nenek merupakan sumber kebenaran bagi bapak dan ibu yang akan menyampaikan pengetahuan budaya mereka kepada anak-anak mereka, Di lain pihak anak-anak akan berkiblat kepada kakek dan nenek dalam membina kepribadiannya dan belajar hidup langsung dari orangtua mereka

Keterlibatan penduduk Indonesia dalam pergaulan antar suku bangsa di kota-kota besar menimbulkan berbagai kesulitan yang tidak disadari oleh karena kurangnya pengetahuan budaya sebagai pedoman bagi sikap dan polah tingkah laku di luar lingkungan masyarakat suku bangsa. Demikian pula penghayatan kebudayaan suku bangsa di antara generasi juga dirasa sangat lemah, antara lain juga karena kurang lengkapnya komponen pendukung kebudayaan tipe postfigurative. Pola penetap neolokal serta perpindahan penduduk ke kota-kota besar telah mengembangkan pola pemukiman dan perumahan yang menampung keluarga batin saja dan memutuskan hubungan kerabat tiga generasi yang diperlukan dalam pembinaan budaya postfigurative. Anak-anak kehilangan pembanding dan sumber kebijaksanaan budaya untuk mengkaji kebenaran informasi budaya yang mereka peroleh dari orangtua mereka, karena ketidak hadiran kakek dan nenek dalam keluarga sebagai panutan. Akibatnya dapat kita rasakan dan dengarkan sebagai mana tersimpul dalam keluhan sementara tua-tua adat yang menyatakan kekhawatiran mereka tentang lemahnya kesadaran berkebudayaan di kalangan generasi muda.

Sesungguhnya di samping gejala kebudayaan-kebudayaan postfigurative dengan segala kendala dan pendorongnya, di Indonesia kini sedang berkembang kebudayaan nasional yang menunjukkan ciri-ciri configurative. Budaya configurative, merupakan kebudayaan yang berlaku sebagai pedoman hidup masa kini dan harapan di masa mendatang. Bagi anggota masyarakat, kebudayaan mereka di masa mendatang adalah model tindakan tingkah-laku yang berlaku pada masa kini.

Oleh karena itu budaya configurative dapat dianggap sebagai awal kehancuran budaya postfigurative.

Biasanya budaya configurative itu berkembang karena:

    1. Bencana alam yang melenyapkan orang-orang tua sebagai pimpinan yang tangguh
    2. Perkembangan teknologi tinggi yang tidak dikuasai oleh generasi tua
    3. Perpindahan penduduk ke lain tempat yang mengakibatkan orangtua dianggap pendatang baru atau orang asing dalam masyarakat setempat
    4. Kekalahan perang dan tekanan untuk mengambil alih bahasa dan kebudayaan pemenang
    5. Perubahan penghayatan agama ketika orangtua memaksa anak-anaknya menganut agama baru yang tidak pernah mereka alami semasa muda
    6. Tindakan berencana sebagai hasil atau merupakan revolusi yang ingin memperkenalkan gaya hidup baru kepada generasi

Kesadaran sejarah merupakan sebuah sikap yang sadar terhadap waktu dan perubahan. Kesadaran sejarah lahir berawal dari kesadaran terhadap eksistensi diri, lalu berkembang menjadi kesadaran kolektif yang meliputi masyarakat, bangsa, dan negara. Kesadaran sejarah berjalan beriringan dengan pertumbuhan wawasan sejarah, baik pada masyarakat tradisional maupun masyarakat modern. Kesadaran sejarah mengindikasikan adanya kesadaran terhadap konsep waktu yang tidak dapat dipisahkan, yakni masa lalu, masa kini, dan masa depan. Selain itu, kesadaran sejarah merupakan bagian tak terpisahkan dari ilmu sejarah, terutama dalam konteks sejarah di tengah masyarakat yang mengandung kebenaran untuk menjadi pedoman sikap dan berperilaku.

Kesadaran sejarah yang merupakan kesadaran dalam aspek afektif tidak terlepas dari aspek kognitif yang mengandalkan logika. Fakta-fakta sejarah menjadi penting di dalam kesadaran sejarah, namun kesadaran sejarah dapat melahirkan kearifan atau kebijaksanaan dalam menapaki masa kini dan menyongsong masa depan. Berdasarkan masa lalu, kesadaran sejarah mendorong masyarakat untuk tidak melupakan identitasnya, yang dalam hal ini sangat berguna dalam rangka pembangunan bangsa. Solidaritas nasional, tanggung jawab sosial dan moral, serta kebudayaan bangsa menjadi berkembang akibat kesadaran sejarah. Kemajuan peradaban bangsa tidak terlepas dari kesadaran sejarah masyarakatnya. Dalam konteks kekinian, kesadaran sejarah tetap memiliki relevansi untuk menghadapi kemajuan teknologi sekaligus fenomena yang dinilai mengancam integrasi bangsa, misal dalam derasnya arus informasi di era pasca kebenaran saat ini.

Dalam konteks kekinian, generasi milenial yang terutama ‘melek teknologi’ dapat menjadi garda terdepan dalam membangun kesadaran sejarah di tengah masyarakat. Dengan demikian, pemikiran kritis sekaligus rasa kebangsaan yang mempersatukan (integratif), sebagai bagian tak terpisahkan dari kesadaran sejarah, dapat terus tumbuh dan berkembang, menjadi semakin nyata, dan sejarah dapat dirasakan menjadi milik semua.

Mari kenali sejarah
Mari adaptasi sejarah sebagai bagian dari budaya
Mari menjadi panutan sejarah

Kabupaten Bekasi jangan sampai menjadi generasi gagal paham, bahkan menjadi generasi lupa sejarah pada pemimpin terdahulunya.

Diambil dari berbagai sumber.

bram ananthakuanantha
Ketua Sarana Indonesia Akar Peduli (SIAP)
Ketua Indonesia Pintar Dalam Edukasi (INSPIRASI)
Pengasuh ruangpublik.info

Author: ruangpublik.info

Penulis Adalah Penggiat Aktivis di Bidang Pendidikan dan Pengamat Kebijakan Pemerintah Sektor Publik
EnglishIndonesian
ruangpublik.info